Novel Waktu
Part 2 kesepakatan dengan kakak
"Ta.... Aletaa...", Mamah mengetuk pintu kamarku.
"Aleta mamah sama papah mau keluar dulu ya", ucap mamah.
"Iya mah", ucapku malas dari dalam kamar.
"Kamu bangun jangan tidur aja ini udah sore", ucap mamah.
Lima menit kemudian aku bangun dan langsung pergi ke kamar mandi. Selesai mandi aku turun ke bawah mencari makanan, karena perutku terasa lapar. Ya hari ini mamah masak makanan cukup banyak mungkin karena ayah pulang ada ayam goreng, sayur asem, sambal dan tempe goreng itu semua makanan kesukaan ayah.
Biasanya kalau ayah sedang tidak di rumah mamah jarang masak ia lebih sering membeli masakan di warung. Selesai makan aku membuka handphone ku, terdapat seratus pesan yang belum aku baca. Ternyata pesan tersebut dari grup kelas ku yang baru, mereka membicarakan banyak hal di grup. Tentang MOS hari ini, kakak kelas dan terkadang mereka begurau. Padahal kami baru saja berkenalan satu hari. Setelah aku menutup handphone ku, tiba tiba aku mengingat anak laki laki yang tadi terserempet mobil, apakah anak laki laki itu baik baik saja?. Lamunanku terhenti saat kakak ku mengagetkan ku.
"Hayo... Lagi ngelamun ya", ucap kakak ku.
"Apaan sih ka ngagetin aja, gada kerjaan banget, gimana nanti kalau aku jantungan?, Ucapku marah kepada ka Kenzo.
"Hahaha mana mungkin kamu jantungan lagian kmu masi muda kali, lagian kamu ngelamun aja mikirin apa sid?, Ucap ka Kenzo.
"Apaan si ka aku baru juga sebentar ngelamun, kepo banget kaka", ucapku kepada ka Kenzo.
"Ya dehhh, btw mamah sama ayah kemana de? Kata mamah ayah udah pulang?, Ucap ka Kenzo.
"Iya Ayah udah pulang, tadi sih mamah bilang mereka mau keluar tapi aku juga gatau mamah sama ayah mau kemana", ucapku.
"Oh yaudah deh kakak mau ke kamer, bye ade kakak yang jelek", ucap ka Kenzo sambil mengacak-acak rambut ku lalu lari ke kamarnya.
"Ya ka kenzoooo dasar", aku menggejar ka kenzo untuk membalas tetapi ka kenzo keburu mengunci pintu kamarnya.
"Awas ya ka Kenzo aku bilangin ayah", ucapku berteriak di depan pintu kamar ka Kenzo.
"Bodo amat dasar pengaduan", ucap ka Kenzo dari balik pintu kamarnya.
Aku merasa sangat sebal, aku memutuskan untuk menonton tv. Saat aku sedang menonton tv, tiba tiba ada yang menutupi mukaku dengan plastik aku tau ini ulah siapa, ya siapa lagi kalau bukan ka Kenzo, lalu aku berteriak.
"YA... KA KENZO.... " Ucapku sambil melepaskan plastik.
"Hahaha..." Ka Kenzo tetawa puas.
Tiba tiba Ayah dan mamah datang.
"Ada apa sih ko kayanya seru banget", ucap ayah.
"Apanya yang seru itu yah ka Kenzo nya jail banget dari tadi", ucapku kepada ayah.
Ayah hanya tersenyum
"Kenzo kamu tuh jadi kakak bukannya ngasuhin ke adek nya, malah berantem mulu", ucap mamah.
"Tuh dengerin kata mamah", ucap ku kepada ka Kenzo.
"Iya mah", ucap ka kenzo.
"Yaudah maafan gih", ucap ayah.
"De kakak minta maaf ya, udah jailin ade", ucap ka Kenzo sambil memelukku.
"Ga, aku ga mau maafin kakak", ucapku.
"Tuh kan yah aku mah udah minta maaf dianya aja yang gamau maafin", ucap ka Kenzo.
"Ade gaboleh gitu ayo maafin", ucap mamah.
"Iya deh aku maafin tapi ada syaratnya", ucapku
"Apa syaratnya?", Ucap ka Kenzo.
"Selama satu minggu kakak harus anterin aku ke sekolah tanpa protes",ucap ku.
" Tapi kan de kalo kakak ada kuliah pagi gimana mana kamu kan kalo berangkat itu suka siang",ucap kakak
"Ya gapapa itu resiko kakak", ucap ka Kenzo.
Mamah dan ayah yang melihat merasa pusing dan memilih untuk meninggalkan kami di ruang tv.
"Udalah mamah mau ke dapur sana kalian lanjutkan kesepakatan kalian", ucap mamah.
"Iya ayah juga mau ganti baju ke kamer dulu dah",ucap ayah.
"Iya tapi kamu harus bangun pagi ya", ucap ka Kenzo
"Iya kakak ku yang gantengnya mengalahkan Aliando", ucap ku.
***
Pukul 06.15, pagi ini aku berangkat di antara oleh ka Kenzo, aku sengaja melambat lambat kan menggunakan sepatu sehingga membuat ka Kenzo kesal. Karena hari ini ka Kenzo masuk kuliah jam 08.00
"Ayo dong de kalo terlambat gimana", ucap ka Kenzo.
"Iya ka iya ini udah, hehehe..", ucap ku menghampiri motor ka Kenzo.
"Udah ayo cepetan naek", ucap ka Kenzo.
"Iya ka iya", ucap ku.
Perjalanan dari rumah ku menuju sekolah ku memerlukan waktu dua puluh menit, itupun jika tidak terkena macet. Dan perjalanan dari sekolah ku menuju kampus ka Kenzo empat puluh lima menit. Karena itu ka Kenzo buru buru. Sebenarnya kalau ka Kenzo berangkat dari rumah ke kampusnya hanya memerlukan waktu tiga puluh menit. Di perjalanan ka Kenzo menggerutu.
"Kamu tuh lama banget mau berangkat sekolah aja", ucap ka Kenzo.
"Ihhh kakak perjanjian kita kemren gimana coba, anterin aku tanpa protes ini kakak protes aja", ucap ku kepada ka Kenzo.
"Iya... Iya...", Ka Kenzo menjawab.
Kami berhenti saat lampu merah, dan saat itu aku melihat di sampingku anak laki laki yang kemarin terserempet mobil berada di sebelah ku, dan dapat aku ketahui ternyata dia itu satu sekolah dengan ku karena ia menggunakan seragam sekolah yang sama dengan ku. Lempu berganti warna menjadi hijau akan laki laki itu kembali mengendarai sepeda motor dengan kencang. Aku yang sedang melamun kaget saat ka Kenzo menarik gas motornya. Lalu marah dan memukul pundak ka Kenzo.
"Kakak ihh hati hati dong kalo ngegas, kalo aku mental gimana", ucap ku marah.
"Apaan sih de kamu lebay banget lagian kakak ngegasnya pelan kali, kamu aja yang tadinya lagi melongo", ucap ka Kenzo.
Ya dua puluh tiga menit kami sampai di sekolah.
"Udah sampe de cepetan turun", ucap ka Kenzo.
"Iya ka sabar",ucap ku.
"Yaudah kakak berangkat ke kampus ya", ucap ka Kenzo.
"Iya ka, hati hati di jalan ka", ucapku lalu segera menuju kelas.
Hari ini adalah hari peresmian peserta MOS menjadi siswa SMAN 45 Jakarta. Seluruh murid di kumpulkan di lapangan. Setelah kami di resmikan sebagai siswa SMAN 45 Jakarta kami kembali ke kelas. Dan ternyata kelas kami akaan dipisahkan lagi sesuai jurusan yang diambil. Sekolah ini memiliki tiga jurusan yaitu jurusan IPA, IPS, dan jurusan Bahasa. Masing masing jurusan memiliki lima kelas. Aku memilih masuk ke jurusan IPA karena aku suka dengan pelajaran matematika, begitu juga Alina dan Klarezia mereka juga memilih jurusan IPA karena mereka menyukai pelajaran biologi.
Komentar
Posting Komentar